Senin, 23 Maret 2015


O.D.E

hei. Dia semakin menjadi. Menghipnosis semua syaraf yang ada dalam tubuhku. Melihatnya menjadi sebuah kebiasaan rutin yang jika tak kulakukan walau hanya sekali, rasanya akan ada tamparan menyedihkan dari setiap pohon yang kulewati. Ketidak adilankah ini?. Aku tak tahu, yang aku tau, aku semakin terperangkap dengan jaring-jaring tipis. Jarring-jaring tipis yang dapat putus dan membuatku terjatuh kapanpun waktu menghendaki.

Hei. Dia semakin menjadi. Memanjakan setiap organ tubuhku yang senantiasa menerima dengan lapang. Aroma tubuhnya bagaikan heroin yang sekalipun aku tak menghirupnya, candu akan merusak pernafasanku. Salah, aku sadar akan hal itu. tapi sungguh.. semakin lama waktu semakin bersikukuh memenjarakan aku dalam pelukan semu dirinya. Semakin saja aku menikmati sebuah kesalahan yang meninggalkan jejak-jejak luka dalam setiap nafas sesal.

Hei. Dia semakin menjadi. Setiap kata yang keluar dari bibirnya menjadi kuas, alat paling tepat melukiskan senyum yang “katanya” adalah senyumnya. Gila bukan?. Bahkan tak masuk akal.
Bukankah cinta tak memiliki ruang sedikitpun untuk kepastian. Aroma tubuhnya, parasnya, suaranya, tak akan senatiasa selalu hadir. Terdengar selalu ditelinga, terlihat dipelupuk mata, kubaca saat ia menyodorkan, kudengar saati ia mengungkapkan. Ia tak akan senantiasa selalu hadir. Tapi kehadirannya selalu terasa tepat pada tempatnya yang sudah paten, dihati.

Liyana Dian Prastiwi

17032015

Sabtu, 07 Juni 2014

POHON KENANGAN

terlihat ia disudut ruangan. Matanya penuh dengan cerita - cerita, cahaya tak seterang ketika matahari tersenyum, kakinya setara dengan dada, tangannya terkatup erat, menyelimuti setiap lekuk wajahnya. Fikirannya kini tengah menggambar sebuah pohon yang menjulang, ia menyebutnya pohon kenangan. tinggi Pohonnya menggambarkan berapa panjang waktu yang dibutuhkan untuk menanam dan memupuknya. Batang bawah adalah kenangan yang telah lama yang tercipta ketika pohon itu baru ditanamkan, batang atas adalah yang paling tinggi dan masih segar, kenangan yang baru saja ia rasakan. setiap lembar daun-daunnya tertuliska setiap cerita dalam hidupnya. suka dan duka. pohon itu begitu tegak membanggakan dia yang menanamnya. hari ini, pohon itu masih terlihat kokoh. namun, ia harus tetap tegak tanpa daun-daun kenangan yang telah mengering dan runtuh.

Semarang, 31 Mei 2014

Awan Semi Fajar

lagi - lagi kutuliskan tentang semi fajar
memang indah dan bagiku sangat indah
selepas kurautkan air suci kejiwa
terpejamlah kedua mata ini
tersilah juga kedua kaki ini
selepas kuakhiri rangkaian doa terhampar padamu
menantimu di pagar besi yang dingin
aku masih menantikan kehadiranmu
kutadahkan segenap kepala ini untuk melawan keindahanmu
kini aku tak sendiri lagi
mengarungi jalan cinta dengan menatap ketenangan yang kau hempaskan
aku bahagia, kini kau berada disampingku, menemani dan berjalan dijalan itu
menadahkan kepala menghadap kelembutan tersiar dilangit
lewat jalan jalan indah kala semi fajar

sang semi fajar, Juni 2014

bayang dari awan

bayang bayang sinar terhalang
pantulkan sinar jiwa kebiruan
senja, berkawan dirinya
awan lembut dengan ketenangan

bayang, namun bukan bayang
tersentuh mata, terjamah angan
jalin cinta bertumpu pada sinar
awan lembut dengan ketenangan
sampaikan pesan pada mata
melalui senja dengan jingga kemerahan

surabaya,6 Juni 2014

Selasa, 13 Mei 2014

SRIWANGI



Cerpen :)
 
GUBRAAKKK, GUBRRAAKK, GUBBRRAAAK suara bantingan pintu yang ditutup rapat. Suara candela yang juga ditutup paksa oleh sang empunya rumah. Suara – suara itu terdengar dengan jelasnya. “ ibu.. aku takut ibu, aku takut, dia marah lagi ibu” seru seorang anak kecil pada ibunya. Dia bersembunyi dibalik tubuh sang ibu dengan air mata yang mengalir dipipinya. Badannya tampak bergetar, menggigil, namun bukan karena kedinginan. Melainkan karena rasa takut yang mencekamnya. “ tidak nak, dia tidak akan macam-macam pada kita, pada penduduk sini,” jawab ibunya. “ sudahlah nak, jangan menangis, ada ibu disini”. Setelah air mata itu perlahan mulai berhenti mengalir, rasa takutpun tak lagi mencekam. “ ibu, sebenarnya siapa dia, siapa wanita tu? Apakah dia hantu? Apa dia kuntilanak? Kenapa dia selalu membawa kendi? Apa isi kendi itu bu? Mengapa dia selalu menyanyi ditengah malam seperti ini, mengapa dia selalu membuat orang-orang ketakutan?”. Pertanyaan demi pertanyaan anak itu lontarkan. Ibunya hanya tersenyum, manis sekali. Kemudian sang ibupun mulai bercerita. Dikatakannya bahwa, pada belasan tahun yang lalu, ketika dia masih berusia sekitar 17 tahun dia memiliki teman bernama sriwangi. Dulu sriwangi adalah perempuan yang cantik, dengan rambutnya yang lurus, lebat, hitam, dan panjang membuat kecantikannya menjadi semakin lengkap. Tak deran jika setiap hari hampir sepuluh keluarga setiap harinya yang datang untk melamarnya. Hitung saja, berapa  banyak orang yang melamarnya selama satu bulan. Namun sriwangi begitu pilih-pilih. Dia memang bukan anak yang sombong pada temannya, tapi dia adalah gadis sombong dimata lelaki yang telah ditolaknya mentah-mentah. Dia adalah gadis yang selalu memuja kecantikannya. Sejak kecil dia selalu dimanjakan denan harta orang tuanya yang terus menerus mengalir bagaikan air. Hingga menikahpun dia bersama seorang kaya raya. Keluarga sriwangi terdengar sangat bahagia di telinga masyarakat. Tapi, beberapa bulan setelah menikah, sriwangi tak lagi muncul dihadapan masyarakat.  Dia menhilang. Pertanyaan demi pertanyaan muncul dari para warga. Apakah dia saking bahagianya samapai tak ingin keluar dari istananya itu? Apakah saking patuhnya ia terhadp suaminya, hingga ia memutuskan untuk terus menerus berdiam diri dirumah? Apakah dia malas keluar karena takut kulitnya yang mulus itu terkena debu, atau panas sengatan cahaya matahari? Apakah dia sakit keras? Ataukah dia menjadi korban KDRT? Atau dia telah meninggal karena sesuatu?.  Semua pertanyaan itu akhirnya terjawab. Ketika suatu hari, sang suami keluar dari rumah tanpa menggunakan kendaraannya seorang ibu-ibu yang terlihat baru sja pulang dari pasar memberanikan diri untuk bertanya, dimanakah sriwangi, mengapa ia tak pernah meilahtnya lagi?. bukan jawaban yang ia dapatkan, melainkan tatapan mata yang tajam. Bibir pria itu terkatup rapat. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Hanya dengan menghentakkan kakinya pria itu memberikan isyarat. Entah apa maksudnya. Yang jelas, setelah itu sang suami pun masuk dan menutup pintu rumah rapat-rapat. Sebulan, dua bulan, tiga bulan keluarga kecil itu terus menampakkan keanehan. Sempat terdengar kabar bahwa sriwangi telah hamil, tapi tak lama setelahnya dikabarkan pula bahwa dia telah keguguran. Semua begitu simpang siur. Tak ada kepastian sama sekali. Bahkan keluarga sriwangi sendiri tak perna tau apa yang tengah dialami oleh anak semata wayangnya.
Apa ituuuu, heh ada orang gila, dia gila.. !!! mengapa dia keluar dari rumah itu ?? bagaimana bisa dia masuk kesana?? Heh lihat .. !! apa yang dibawanya ?? apa itu sebuah kendi ?? … begitu seru orang-orang saat melihat seorang wanita keluar dari sebuah rumah megah. Dengan cara mengintip, mengeluarkan matanya dari pagar besi yang begitu tinggi, kemudian perlahan membuka pagar dan menghambur lari menghampiri kerumunan orang yang tengah melihatnya. Kerumunan itu seketika membubarkan diri, setiap orang yang ada disana masing-masing masuk kerumah. Anak kecil menangis sekencang-kencangnya. Wanita itu hanya bersimpuh membawa kendi yang ditangannya, dielusnya kendi itu. Hingga akhirnya ada seorang wanita lain yang menghampiri si wanita yang dianggap gila.
“ sriwangi.. bukankah kau sriwangi??” Tanya wanita itu. Wanita yang dianggap gila tak menjawab. Air mata mengalir deras dipipinya.
“ aku mengenalimu ngi, aku mengenalimu, aku tahu ini kau kawan, aku tau kau sriwangi. Apa yang tengah terjadi denganmu wangi, mengapa sampai kau seperti ini?”. Wanita itu terus bertanya, meyakinkan diri bahwa wanita sebayanya yang terlihat seperti orang gila itu adalah temannya. Dia adalah kawan lamanya. Kawan lama yang tak pernah terdengar kabar dan keberadaannya. Tanpa mengatakan sepatah katapun wanita gila itu beranjak sambil tetap menangis dia membanting kendi yang dibawanya. Dan aneh dia menyusun kendi itu kembali. Lebih aneh lagi ketika kendi itu kembali seperti semula tanpa bekas pecahan sama sekali. Betapa terkejutnya wanita yang hanya bisa terdiam ditempatnya itu.
“ bagaimana bisa, sihirkah itu?”. Katanya. Dia begitu yakin wanita gila itu adalah sriwangi. Sriwangi tidak gila. Sriwangi terus berjalan meninggalkan teman lamanya yang hanya bisa termangu kebingungan, sriwangi terus berjalan, sambil mendendangkan sebuah nyanyian jawa kuno. Membuat siapapun yang mendengar akan berdiri bulu kuduknya. Sejak saat itu, setelah sekian lama menghilang, muncul dengan keadaan yang memprihatinkan, sriwangi kembali hilang. Dia memilih untuk mengasingkan diri kepegunungan didesa sebrang. Usut punya usut, kendi yang dibawanya itu berisikan janin-janin yang pernah ada di rahimnya yang sengaja ia bunuh karena suaminya tak pernah menghendaki kehamilannya. Hal itu karena apabila sriwangi hamil maka yang dilahirkan bukanlah manusia, melaainkan puluhan ular. Karena selama ini, harta yang dimiliki suaminya bukannya halal namun hasil pesugihan digunung yang dihuninya sekarang. Bahkan keadaan sriwangi yang seperti inipun akibat dari pesugihan itu sendiri.
Kini, setiap malam, dihari-hari tertentu suara nyanyian itu sering kali terdengar. Hingga menutup telingapun tak mampu untuk menghalangi masuknyaa suara itu dalam telinga. Semua orang menganggap sriwangi telah mati. Hanya arwahnyalah yang gentayangan dan ingin membalaskan dendam terhadap suaminya. Kisah sriwangi menjadi legenda. Foklor yang terus-menerus menjadi cerita menarik sekaligus mengerikan bagi setiap generasi disana.



Mungkin saja mereka sama (-_-)




tak dapat kurangkai kata-kata indah untuk hal ini
yang kutemukan hanya sebentuk hati yang lapang
hati yang tenang
dan hati yang luas akan keikhlasan
mungkin sama saja dengan pemandangan air yang melimpah ruah itu..
aku tak menemukan lagi selain itu
selain hati yang hancur
hati yang porak poranda akan hal yang bersifat sementara..
ya..
hanya sementara, indahnya laut dapat berubah menjadi monster yang bisa memporak porandakan segalanya
begitu juga hati, kelapangan hati dapat berubah menjadi api kecil yang meletup-letup penuh amarah

liyana,Surabaya10Maret2014

Bodohnya Manusia




Aku ada didalam diri manusia
Aku sering kali menguasai hati dan fikiran manusia
Terkadang manusia terlihat begitu bodoh
Membuatku tertawa menang
Bodohnya manusia karena menuruti apa yang kukataka
Mudah sekali memperbudak manusia
Aku, akanb selalu mengahntui manusia
Berusaha selalu menguasainya
Aku adalah api, api yang selalu berkobar..
Membara dan melumuri setiap bagian tubuh manusia
Seperti air aku berusaha masuk
kedalam setiap celah fikiran dan rasa dihati manusia
dan ketika aku mulai bertemu dengan api yang lain
buuuummmm
segalanya akan terasa gelap dan tetap terasa indah
hal –hal yang memadati setiap sudut di otak manusia akan hilang ..
setiap rasa yang bertengger di sisi-sisi hati manusia akan lenyap seketika
yang tersisa hanya rasa nikmat yang berlumur dosa
dunia seperti tak memiliki mata..
dan manusia tak kan memperdulikannya
seolah tuhan mereka tengah terlelap dalam tidur

begitu manusia denganku
begitu hubungan manusia denganku
begitu dekat
bahkan sangat dekat
begitu pulalah aku
aku, api dalam tubuh manusia

liyana,Surabaya10Maret2014