Selasa, 13 Mei 2014

SRIWANGI



Cerpen :)
 
GUBRAAKKK, GUBRRAAKK, GUBBRRAAAK suara bantingan pintu yang ditutup rapat. Suara candela yang juga ditutup paksa oleh sang empunya rumah. Suara – suara itu terdengar dengan jelasnya. “ ibu.. aku takut ibu, aku takut, dia marah lagi ibu” seru seorang anak kecil pada ibunya. Dia bersembunyi dibalik tubuh sang ibu dengan air mata yang mengalir dipipinya. Badannya tampak bergetar, menggigil, namun bukan karena kedinginan. Melainkan karena rasa takut yang mencekamnya. “ tidak nak, dia tidak akan macam-macam pada kita, pada penduduk sini,” jawab ibunya. “ sudahlah nak, jangan menangis, ada ibu disini”. Setelah air mata itu perlahan mulai berhenti mengalir, rasa takutpun tak lagi mencekam. “ ibu, sebenarnya siapa dia, siapa wanita tu? Apakah dia hantu? Apa dia kuntilanak? Kenapa dia selalu membawa kendi? Apa isi kendi itu bu? Mengapa dia selalu menyanyi ditengah malam seperti ini, mengapa dia selalu membuat orang-orang ketakutan?”. Pertanyaan demi pertanyaan anak itu lontarkan. Ibunya hanya tersenyum, manis sekali. Kemudian sang ibupun mulai bercerita. Dikatakannya bahwa, pada belasan tahun yang lalu, ketika dia masih berusia sekitar 17 tahun dia memiliki teman bernama sriwangi. Dulu sriwangi adalah perempuan yang cantik, dengan rambutnya yang lurus, lebat, hitam, dan panjang membuat kecantikannya menjadi semakin lengkap. Tak deran jika setiap hari hampir sepuluh keluarga setiap harinya yang datang untk melamarnya. Hitung saja, berapa  banyak orang yang melamarnya selama satu bulan. Namun sriwangi begitu pilih-pilih. Dia memang bukan anak yang sombong pada temannya, tapi dia adalah gadis sombong dimata lelaki yang telah ditolaknya mentah-mentah. Dia adalah gadis yang selalu memuja kecantikannya. Sejak kecil dia selalu dimanjakan denan harta orang tuanya yang terus menerus mengalir bagaikan air. Hingga menikahpun dia bersama seorang kaya raya. Keluarga sriwangi terdengar sangat bahagia di telinga masyarakat. Tapi, beberapa bulan setelah menikah, sriwangi tak lagi muncul dihadapan masyarakat.  Dia menhilang. Pertanyaan demi pertanyaan muncul dari para warga. Apakah dia saking bahagianya samapai tak ingin keluar dari istananya itu? Apakah saking patuhnya ia terhadp suaminya, hingga ia memutuskan untuk terus menerus berdiam diri dirumah? Apakah dia malas keluar karena takut kulitnya yang mulus itu terkena debu, atau panas sengatan cahaya matahari? Apakah dia sakit keras? Ataukah dia menjadi korban KDRT? Atau dia telah meninggal karena sesuatu?.  Semua pertanyaan itu akhirnya terjawab. Ketika suatu hari, sang suami keluar dari rumah tanpa menggunakan kendaraannya seorang ibu-ibu yang terlihat baru sja pulang dari pasar memberanikan diri untuk bertanya, dimanakah sriwangi, mengapa ia tak pernah meilahtnya lagi?. bukan jawaban yang ia dapatkan, melainkan tatapan mata yang tajam. Bibir pria itu terkatup rapat. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Hanya dengan menghentakkan kakinya pria itu memberikan isyarat. Entah apa maksudnya. Yang jelas, setelah itu sang suami pun masuk dan menutup pintu rumah rapat-rapat. Sebulan, dua bulan, tiga bulan keluarga kecil itu terus menampakkan keanehan. Sempat terdengar kabar bahwa sriwangi telah hamil, tapi tak lama setelahnya dikabarkan pula bahwa dia telah keguguran. Semua begitu simpang siur. Tak ada kepastian sama sekali. Bahkan keluarga sriwangi sendiri tak perna tau apa yang tengah dialami oleh anak semata wayangnya.
Apa ituuuu, heh ada orang gila, dia gila.. !!! mengapa dia keluar dari rumah itu ?? bagaimana bisa dia masuk kesana?? Heh lihat .. !! apa yang dibawanya ?? apa itu sebuah kendi ?? … begitu seru orang-orang saat melihat seorang wanita keluar dari sebuah rumah megah. Dengan cara mengintip, mengeluarkan matanya dari pagar besi yang begitu tinggi, kemudian perlahan membuka pagar dan menghambur lari menghampiri kerumunan orang yang tengah melihatnya. Kerumunan itu seketika membubarkan diri, setiap orang yang ada disana masing-masing masuk kerumah. Anak kecil menangis sekencang-kencangnya. Wanita itu hanya bersimpuh membawa kendi yang ditangannya, dielusnya kendi itu. Hingga akhirnya ada seorang wanita lain yang menghampiri si wanita yang dianggap gila.
“ sriwangi.. bukankah kau sriwangi??” Tanya wanita itu. Wanita yang dianggap gila tak menjawab. Air mata mengalir deras dipipinya.
“ aku mengenalimu ngi, aku mengenalimu, aku tahu ini kau kawan, aku tau kau sriwangi. Apa yang tengah terjadi denganmu wangi, mengapa sampai kau seperti ini?”. Wanita itu terus bertanya, meyakinkan diri bahwa wanita sebayanya yang terlihat seperti orang gila itu adalah temannya. Dia adalah kawan lamanya. Kawan lama yang tak pernah terdengar kabar dan keberadaannya. Tanpa mengatakan sepatah katapun wanita gila itu beranjak sambil tetap menangis dia membanting kendi yang dibawanya. Dan aneh dia menyusun kendi itu kembali. Lebih aneh lagi ketika kendi itu kembali seperti semula tanpa bekas pecahan sama sekali. Betapa terkejutnya wanita yang hanya bisa terdiam ditempatnya itu.
“ bagaimana bisa, sihirkah itu?”. Katanya. Dia begitu yakin wanita gila itu adalah sriwangi. Sriwangi tidak gila. Sriwangi terus berjalan meninggalkan teman lamanya yang hanya bisa termangu kebingungan, sriwangi terus berjalan, sambil mendendangkan sebuah nyanyian jawa kuno. Membuat siapapun yang mendengar akan berdiri bulu kuduknya. Sejak saat itu, setelah sekian lama menghilang, muncul dengan keadaan yang memprihatinkan, sriwangi kembali hilang. Dia memilih untuk mengasingkan diri kepegunungan didesa sebrang. Usut punya usut, kendi yang dibawanya itu berisikan janin-janin yang pernah ada di rahimnya yang sengaja ia bunuh karena suaminya tak pernah menghendaki kehamilannya. Hal itu karena apabila sriwangi hamil maka yang dilahirkan bukanlah manusia, melaainkan puluhan ular. Karena selama ini, harta yang dimiliki suaminya bukannya halal namun hasil pesugihan digunung yang dihuninya sekarang. Bahkan keadaan sriwangi yang seperti inipun akibat dari pesugihan itu sendiri.
Kini, setiap malam, dihari-hari tertentu suara nyanyian itu sering kali terdengar. Hingga menutup telingapun tak mampu untuk menghalangi masuknyaa suara itu dalam telinga. Semua orang menganggap sriwangi telah mati. Hanya arwahnyalah yang gentayangan dan ingin membalaskan dendam terhadap suaminya. Kisah sriwangi menjadi legenda. Foklor yang terus-menerus menjadi cerita menarik sekaligus mengerikan bagi setiap generasi disana.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar