Cerpen :)
GUBRAAKKK, GUBRRAAKK, GUBBRRAAAK
suara bantingan pintu yang ditutup rapat. Suara candela yang juga ditutup paksa
oleh sang empunya rumah. Suara – suara itu terdengar dengan jelasnya. “ ibu..
aku takut ibu, aku takut, dia marah lagi ibu” seru seorang anak kecil pada
ibunya. Dia bersembunyi dibalik tubuh sang ibu dengan air mata yang mengalir
dipipinya. Badannya tampak bergetar, menggigil, namun bukan karena kedinginan.
Melainkan karena rasa takut yang mencekamnya. “ tidak nak, dia tidak akan
macam-macam pada kita, pada penduduk sini,” jawab ibunya. “ sudahlah nak,
jangan menangis, ada ibu disini”. Setelah air mata itu perlahan mulai berhenti
mengalir, rasa takutpun tak lagi mencekam. “ ibu, sebenarnya siapa dia, siapa
wanita tu? Apakah dia hantu? Apa dia kuntilanak? Kenapa dia selalu membawa
kendi? Apa isi kendi itu bu? Mengapa dia selalu menyanyi ditengah malam seperti
ini, mengapa dia selalu membuat orang-orang ketakutan?”. Pertanyaan demi
pertanyaan anak itu lontarkan. Ibunya hanya tersenyum, manis sekali. Kemudian
sang ibupun mulai bercerita. Dikatakannya bahwa, pada belasan tahun yang lalu,
ketika dia masih berusia sekitar 17 tahun dia memiliki teman bernama sriwangi.
Dulu sriwangi adalah perempuan yang cantik, dengan rambutnya yang lurus, lebat,
hitam, dan panjang membuat kecantikannya menjadi semakin lengkap. Tak deran
jika setiap hari hampir sepuluh keluarga setiap harinya yang datang untk
melamarnya. Hitung saja, berapa banyak
orang yang melamarnya selama satu bulan. Namun sriwangi begitu pilih-pilih. Dia
memang bukan anak yang sombong pada temannya, tapi dia adalah gadis sombong
dimata lelaki yang telah ditolaknya mentah-mentah. Dia adalah gadis yang selalu
memuja kecantikannya. Sejak kecil dia selalu dimanjakan denan harta orang
tuanya yang terus menerus mengalir bagaikan air. Hingga menikahpun dia bersama
seorang kaya raya. Keluarga sriwangi terdengar sangat bahagia di telinga
masyarakat. Tapi, beberapa bulan setelah menikah, sriwangi tak lagi muncul
dihadapan masyarakat. Dia menhilang.
Pertanyaan demi pertanyaan muncul dari para warga. Apakah dia saking bahagianya
samapai tak ingin keluar dari istananya itu? Apakah saking patuhnya ia terhadp
suaminya, hingga ia memutuskan untuk terus menerus berdiam diri dirumah? Apakah
dia malas keluar karena takut kulitnya yang mulus itu terkena debu, atau panas
sengatan cahaya matahari? Apakah dia sakit keras? Ataukah dia menjadi korban
KDRT? Atau dia telah meninggal karena sesuatu?.
Semua pertanyaan itu akhirnya terjawab. Ketika suatu hari, sang suami
keluar dari rumah tanpa menggunakan kendaraannya seorang ibu-ibu yang terlihat
baru sja pulang dari pasar memberanikan diri untuk bertanya, dimanakah
sriwangi, mengapa ia tak pernah meilahtnya lagi?. bukan jawaban yang ia
dapatkan, melainkan tatapan mata yang tajam. Bibir pria itu terkatup rapat. Tak
sepatah katapun keluar dari mulutnya. Hanya dengan menghentakkan kakinya pria
itu memberikan isyarat. Entah apa maksudnya. Yang jelas, setelah itu sang suami
pun masuk dan menutup pintu rumah rapat-rapat. Sebulan, dua bulan, tiga bulan
keluarga kecil itu terus menampakkan keanehan. Sempat terdengar kabar bahwa
sriwangi telah hamil, tapi tak lama setelahnya dikabarkan pula bahwa dia telah
keguguran. Semua begitu simpang siur. Tak ada kepastian sama sekali. Bahkan
keluarga sriwangi sendiri tak perna tau apa yang tengah dialami oleh anak
semata wayangnya.
Apa ituuuu, heh ada orang gila,
dia gila.. !!! mengapa dia keluar dari rumah itu ?? bagaimana bisa dia masuk
kesana?? Heh lihat .. !! apa yang dibawanya ?? apa itu sebuah kendi ?? … begitu
seru orang-orang saat melihat seorang wanita keluar dari sebuah rumah megah.
Dengan cara mengintip, mengeluarkan matanya dari pagar besi yang begitu tinggi,
kemudian perlahan membuka pagar dan menghambur lari menghampiri kerumunan orang
yang tengah melihatnya. Kerumunan itu seketika membubarkan diri, setiap orang
yang ada disana masing-masing masuk kerumah. Anak kecil menangis
sekencang-kencangnya. Wanita itu hanya bersimpuh membawa kendi yang
ditangannya, dielusnya kendi itu. Hingga akhirnya ada seorang wanita lain yang
menghampiri si wanita yang dianggap gila.
“ sriwangi.. bukankah kau
sriwangi??” Tanya wanita itu. Wanita yang dianggap gila tak menjawab. Air mata
mengalir deras dipipinya.
“ aku mengenalimu ngi, aku
mengenalimu, aku tahu ini kau kawan, aku tau kau sriwangi. Apa yang tengah
terjadi denganmu wangi, mengapa sampai kau seperti ini?”. Wanita itu terus
bertanya, meyakinkan diri bahwa wanita sebayanya yang terlihat seperti orang
gila itu adalah temannya. Dia adalah kawan lamanya. Kawan lama yang tak pernah
terdengar kabar dan keberadaannya. Tanpa mengatakan sepatah katapun wanita gila
itu beranjak sambil tetap menangis dia membanting kendi yang dibawanya. Dan
aneh dia menyusun kendi itu kembali. Lebih aneh lagi ketika kendi itu kembali
seperti semula tanpa bekas pecahan sama sekali. Betapa terkejutnya wanita yang
hanya bisa terdiam ditempatnya itu.
“ bagaimana bisa, sihirkah itu?”.
Katanya. Dia begitu yakin wanita gila itu adalah sriwangi. Sriwangi tidak gila.
Sriwangi terus berjalan meninggalkan teman lamanya yang hanya bisa termangu
kebingungan, sriwangi terus berjalan, sambil mendendangkan sebuah nyanyian jawa
kuno. Membuat siapapun yang mendengar akan berdiri bulu kuduknya. Sejak saat
itu, setelah sekian lama menghilang, muncul dengan keadaan yang memprihatinkan,
sriwangi kembali hilang. Dia memilih untuk mengasingkan diri kepegunungan
didesa sebrang. Usut punya usut, kendi yang dibawanya itu berisikan janin-janin
yang pernah ada di rahimnya yang sengaja ia bunuh karena suaminya tak pernah
menghendaki kehamilannya. Hal itu karena apabila sriwangi hamil maka yang
dilahirkan bukanlah manusia, melaainkan puluhan ular. Karena selama ini, harta
yang dimiliki suaminya bukannya halal namun hasil pesugihan digunung yang
dihuninya sekarang. Bahkan keadaan sriwangi yang seperti inipun akibat dari
pesugihan itu sendiri.
Kini, setiap malam, dihari-hari
tertentu suara nyanyian itu sering kali terdengar. Hingga menutup telingapun
tak mampu untuk menghalangi masuknyaa suara itu dalam telinga. Semua orang
menganggap sriwangi telah mati. Hanya arwahnyalah yang gentayangan dan ingin
membalaskan dendam terhadap suaminya. Kisah sriwangi menjadi legenda. Foklor
yang terus-menerus menjadi cerita menarik sekaligus mengerikan bagi setiap
generasi disana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar