Senin, 23 Maret 2015


O.D.E

hei. Dia semakin menjadi. Menghipnosis semua syaraf yang ada dalam tubuhku. Melihatnya menjadi sebuah kebiasaan rutin yang jika tak kulakukan walau hanya sekali, rasanya akan ada tamparan menyedihkan dari setiap pohon yang kulewati. Ketidak adilankah ini?. Aku tak tahu, yang aku tau, aku semakin terperangkap dengan jaring-jaring tipis. Jarring-jaring tipis yang dapat putus dan membuatku terjatuh kapanpun waktu menghendaki.

Hei. Dia semakin menjadi. Memanjakan setiap organ tubuhku yang senantiasa menerima dengan lapang. Aroma tubuhnya bagaikan heroin yang sekalipun aku tak menghirupnya, candu akan merusak pernafasanku. Salah, aku sadar akan hal itu. tapi sungguh.. semakin lama waktu semakin bersikukuh memenjarakan aku dalam pelukan semu dirinya. Semakin saja aku menikmati sebuah kesalahan yang meninggalkan jejak-jejak luka dalam setiap nafas sesal.

Hei. Dia semakin menjadi. Setiap kata yang keluar dari bibirnya menjadi kuas, alat paling tepat melukiskan senyum yang “katanya” adalah senyumnya. Gila bukan?. Bahkan tak masuk akal.
Bukankah cinta tak memiliki ruang sedikitpun untuk kepastian. Aroma tubuhnya, parasnya, suaranya, tak akan senatiasa selalu hadir. Terdengar selalu ditelinga, terlihat dipelupuk mata, kubaca saat ia menyodorkan, kudengar saati ia mengungkapkan. Ia tak akan senantiasa selalu hadir. Tapi kehadirannya selalu terasa tepat pada tempatnya yang sudah paten, dihati.

Liyana Dian Prastiwi

17032015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar