O.D.E
hei. Dia semakin
menjadi. Menghipnosis semua syaraf yang ada dalam tubuhku. Melihatnya menjadi
sebuah kebiasaan rutin yang jika tak kulakukan walau hanya sekali, rasanya akan
ada tamparan menyedihkan dari setiap pohon yang kulewati. Ketidak adilankah ini?.
Aku tak tahu, yang aku tau, aku semakin terperangkap dengan jaring-jaring
tipis. Jarring-jaring tipis yang dapat putus dan membuatku terjatuh kapanpun
waktu menghendaki.
Hei. Dia semakin
menjadi. Memanjakan setiap organ tubuhku yang senantiasa menerima dengan
lapang. Aroma tubuhnya bagaikan heroin yang sekalipun aku tak menghirupnya,
candu akan merusak pernafasanku. Salah, aku sadar akan hal itu. tapi sungguh..
semakin lama waktu semakin bersikukuh memenjarakan aku dalam pelukan semu
dirinya. Semakin saja aku menikmati sebuah kesalahan yang meninggalkan
jejak-jejak luka dalam setiap nafas sesal.
Hei. Dia semakin
menjadi. Setiap kata yang keluar dari bibirnya menjadi kuas, alat paling tepat
melukiskan senyum yang “katanya” adalah senyumnya. Gila bukan?. Bahkan tak
masuk akal.
Bukankah cinta tak
memiliki ruang sedikitpun untuk kepastian. Aroma tubuhnya, parasnya, suaranya,
tak akan senatiasa selalu hadir. Terdengar selalu ditelinga, terlihat dipelupuk
mata, kubaca saat ia menyodorkan, kudengar saati ia mengungkapkan. Ia tak akan
senantiasa selalu hadir. Tapi kehadirannya selalu terasa tepat pada tempatnya
yang sudah paten, dihati.
Liyana Dian Prastiwi
17032015